Rabu, 19 Oktober 2011
Ketika Trend "K-POP" Merajai Tanah Air
Trend ala “K-POP” benar-benar sedang merajai industri music tanah air. Acara musik di layar kaca dipenuhi Boy band dan Girl band yang menyuguhkan berbagai kreasi gaya musik dan dance yang sangat condong dengan trend hiburan di Korea. Pelaku hiburan di tanah air khususnya di bidang musik, tampaknya memang peka dengan trend dunia musik “K-POP” yang virusnya tengah mewabah ke mana-mana, bahkan telah melampaui batas negeri ginseng itu sendiri. Musik di tanah air ternyata juga mengikuti trend tersebut. Sejumlah vocal grup yang dipadukan dengan dance atraktif dan gaya berpakaian yang fashionable, begitu banyak bermunculan di negeri ini.
Hal tersebut bisa dikatakan sebagai fenomena yang cukup menarik sejauh masih menghibur dan bisa memberikan pengaruh yang positif bagi pecinta dunia musik di tanah air. Selama penyajian mereka tidak monoton, tidak melulu selalu tampil dengan gaya “ke-korea-korea-an”, dan mampu menyuguhkan kreatifitas yang lebih inovatif dibanding trend yang datang dari negeri korea tersebut. Terlebih jika Boy band dan Girl Band di Indonesia mampu tampil dengan gaya bermusik dan tampilan yang lebih Indonesia. Sehingga musik Indonesia setidaknya tak pernah kehilangan jati diri ke-indonesia-annya. Jika mau menilisik lebih jauh lagi adalah tentang bagaimana musik korea dengan bahasa koreanya mampu mewabah hingga mampu memberikan pengaruh pada trend musik dunia. Pada kenyataannya bukan hanya orang-orang di asia saja yang mulai menyukai tentang dunia hiburan di korea (musik dan film), tetapi juga orang-orang barat (eropa dan amerika) juga mulai menggemarinya. Hal tersebut terbukti ketika para Boys band ataupun Girl band yang tampil di negara-negara eropa ataupun amerika, ternyata mendapatkan antusiasme yang cukup luar biasa untuk seukuran artis asia yang perfom di negara-negara barat tersebut. Hal tersebut tentunya akan memberikan pengaruh positif bagi Negara yang terkenal dengan sebutan “negeri ginseng” tersebut. Semakin populernya Negara Korea berarti akan semakin banyak orang yang ingin mengetahui segala hal tentang Korea.
Yang menjadi pemikiran kita tentunya, kenapa Korea dengan dunia hiburannya (music dan film) mampu mencapai prestasi yang seperti itu?apa yang membuat mereka bisa seperti itu?.Padahal mereka menampilkan sesuatu hal yang tak lepas dari budayanya. Menyanyi dengan bahasa korea, bergaya ala korea, dan fashion ala korea. Meskipun mengikuti trend di dunia barat tapi budayanya sendiri juga tak ditinggalkan. Hal tersebut tentunya bisa menjadi oto-kritik bagi industri hiburan di Indonesia. Mampukah Indonesia bisa populer di seluruh dunia karena budayanya?, karena industri hiburannya?,musiknya?, filmnya?, padahal kita memiliki budaya yang jauh lebih kaya dari “negeri ginseng” tersebut. (By : Ayuth WSP)
Label: Ayuth - Music
ayuth WSP
Rabu, 30 Maret 2011
Sabtu, 01 Januari 2011
Titik Puspa : "Tak Ada Lagi Koruptor di Tahun 2011"
Dari BeritaMusik.com
Meski usianya sudah tidak muda lagi, penyanyi senior kelahiran Kalimantan Selatan, Sumarti atau lebih dikenal dengan Titiek Puspa masih ikut merayakan detik-detik pergantian tahun. Ditemui di acara Hartati Murdaya Dancing Night Party di JI Expo Pekan Raya Jakarta, kemayoran, Jakarta Utara, Jumat (31/12) malam, wanita yang biasa di sapa eyang ini terlihat ceria dengan gaun berwarna pink.
Dalam acara tersebut Titiek Puspa menyanyikan sebuah lagu yang berjudul Kupu-kupu Malam, ditemani oleh sahabat lamanya Hartati Murdaya. Jelang tengah malam pelantun Gang Kelinci ini larut dalam keceriaan bersama tamu-tamu undangan.
Tidak seperti artis kebanyakan yang punya resolusi di tahun 2011, bagi wanita 73 tahun ini tidak punya resolusi dalam menjalani hidup. “Enggak ada gitu-gituan,” ujarnya singkat sambil tertawa. Kalau rencana membuat karya di tahun 2011, sebagi penyanyi dirinya punya rencana membuat karya. “Ada, tapi nanti saja ya. Doakan saja,” tambahnya.
Tapi dirinya mempunyai harapan yang besar di tahun baru ini, “Saya minta sama Tuhan supaya masyarakat Indonesia semakin mawas diri dan cintailah cinta. Kalau kita saling cinta tuhan akan kasih jalan,” harapnya.
“Dan paling penting di tahun yang baru nanti tidak ada lagi koruptor,” tutupnya
Berita Musik - Berita | Oleh : Berita Musik
Label: Ayuth - Music
ayuth WSP
Penghargaan Bukan Target Utama
Belum lama ini single Hari Bersamanya milik Sheila On 7 mendapat penghargaan oleh salah satu majalah musik terkemuka di Indonesia, sebagai single yang paling disukai publik.
Walau begitu, Eross dengan dengan rendah hati berkomentar kepada Okezone yang menghubunginya melalui telepon belum lama ini, katanya, ”kalau dari dulu kita gak mengharapkan dapat penghargaan, itu bukan tujuan utama kita, kita hanya memenuhi kontrak kerjasama kita dengan Sony Music, itu saja.”
Dia melanjutkan, dirinya sangat senang dengan penghargaan tersebut, ini akan dijadikannya sebuah acuan untuk berkarya lebih baik lagi.
“Penghargaan itu Alhamdulillah bagi kita. Kita senang lagu kita masih bisa didengarkan dan diterima baik oleh masyarakat sampai saat ini. Semoga lagu kita selanjutnya pun sama,” harap suami dari Sarah Diorita ini.(tom) (nov)
Walau begitu, Eross dengan dengan rendah hati berkomentar kepada Okezone yang menghubunginya melalui telepon belum lama ini, katanya, ”kalau dari dulu kita gak mengharapkan dapat penghargaan, itu bukan tujuan utama kita, kita hanya memenuhi kontrak kerjasama kita dengan Sony Music, itu saja.”
Dia melanjutkan, dirinya sangat senang dengan penghargaan tersebut, ini akan dijadikannya sebuah acuan untuk berkarya lebih baik lagi.
“Penghargaan itu Alhamdulillah bagi kita. Kita senang lagu kita masih bisa didengarkan dan diterima baik oleh masyarakat sampai saat ini. Semoga lagu kita selanjutnya pun sama,” harap suami dari Sarah Diorita ini.(tom) (nov)
Label: Ayuth - Music
ayuth WSP
Perbedaan Musik Indie di Indonesia dengan Negara Lain
Yang membedakan adalah penonton jarang yang mau bayar tiket, tidak pernah beli minuman jika sedang di rockclub dan kurang mau membeli rilisan. Ini dalam konotasi negatif [tertawa]. Dalam konotasi positif adalah banyaknya band-band baru yang lahir dengan berbagai macam jenis musik baru. Kalau 10 tahun yang lalu ketika sebuah majalah musik memperkenalkan tren thrash metal maka semuanya menjadi anak metal. Tapi sekarang tidak ada sebuah tren yang mendominasi, ketika ada tren emo tidak semua ikut menjadi anak emo tapi masih ada anak indie pop, new wave, high octane rock dan lain-lain. Penggemar musik sekarang ini lebih segmented.
Jadi menurut saya ini adalah perkembangan yang baik. Tapi yang lebih unik lagi ketika saya kemarin berkunjung ke Jepang dan Jerman ada sesuatu yang mereka tidak punya, yaitu spirit untuk stick together. Di Indonesia semua musisi berkomunikasi, berkumpul dan bersilaturahmi dengan sehat, baik anak metal maupun new wave, indie pop dengan hardcore, mereka semua tetap mempunyai hubungan baik. Bahkan kita mempunyai event yang bernama SGM atau sintinggilamiring di mana band besar atau kecil dengan berbagai aliran dapat tampil di satu panggung. Di luar negeri kekerabatan seperti ini jarang ditemui, bahkan band dengan aliran yang sama pun belum tentu kenal.
Editor Rolling Stone Magazine & Manager The Upstairs
Label: Ayuth - Music
ayuth WSP
Hal Yang Mempengaruhi Perkembangan Musik Indie di Indonesia
Pengaruh yang pertama, kalau anda bedakan sekarang dengan 10 tahun yang lalu, sekarang sudah jelas gerakan ini lebih besar. Yang paling jelas adalah globalisasi informasi yang didorong oleh internet. Menjadi semakin besar sekitar akhir tahun 1990an karena internet bertebaran di mana-mana, warnet, kampus dan sekolah. Jaman dulu informasi terhadap musik-musik seperti ini sangat eksklusif. Informasi hanya bisa didapat dari majalah-majalah luar. Kita pun untuk mengorder T-Shirt masih harus dengan cara yang primitif, dengan menggunakan katalog, mengisi form dan membayar dengan kartu kredit.
Kalau jaman sekarang segalanya menjadi mudah dengan internet, semuanya “terakselerasi maksimum”. Jadi menurut saya ini semua karena peran internet, ditambah lagi dengan adanya MySpace dan Friendster (group websites-red). Perkembangan infrastruktur juga berbeda, kalau 10 tahun yang lalu indie label hanya sedikit. Pengertian indie label pun kadang masih salah kaprah disini. Karena yang dimaksud dengan indie label bukanlah rilisan album namun label rekaman yang independen. Sedangkan yang merilis sendiri adalah self-released atau D.I.Y.
Jadi 10 tahun yang lalu label-label indie itu sedikit, sekarang sudah banyak walaupun masih sedikit yang berbisnis dengan baik dan benar. Tapi infrastrukturnya sudah lebih baik. Kita juga punya rock club buat manggung dan berbagai media yang membantu perkembangannya. Bahkan perkembangannya di Indonesia jauh lebih menarik dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Semua dikarenakan infrastruktur yang lebih baik walaupun masih banyak kekurangan.
Label: Ayuth - Music
ayuth WSP
Langganan:
Postingan (Atom)

